Selasa, 29 Oktober 2013

SD.N XI-MANDAU SANGAT BUTUH PERHATIAN SERIUS DARI PEMKAB BENGKALIS



MANDAU-BENGKALIS
SUARA RAKYAT RIAU(006)


  • II LOKAL BUTUH REHAB DAN MOBILER
  • DANA LES LIMA PULUH RIBU RUPIAH
  • AIR PAM DI BAK LEBIH SERING KOSONG DARI BERISI



    Informasi yang berkembang di tengah tengah masyarakat mengenai SDN XI ini,sungguh di luar dugaan karena di Daerah yang terkenal kaya akan Minyak dan Gas koq masih ada tempat berlangsungnya proses belajar mengajar seperti ini,Ungkap salah seorang warga dan untuk mengetahui kebenaran dari isu yang berkembang ini wartawan Media SRR coba survey ke lapangan dan bincang bincang dengan seorang guru yang berada disana "bahwasanya sekolah SDN X1 Tepatnya di jalan gaya baru  memang sering terjadi kekurangan air  toilet.

Bukan hanya siswa saja yang mengeluh dalam hal ini,kami selaku guru pun sering mengeluhkan  hal tersebut.

Lanjut paparan dari guru tersebut,masalah mobiler memang ada 2 lokal sangat memprihatinkan dan sudah layak untuk diganti  bagaimana mungkin dunia pendidikan akan berkembang dan maju jika sarana dan prasarana tidak mendukung.

Menurut keterangan dari  guru, kami dengar-dengar akan  di perbaiki pada Bulan Desember.

Namun hingga saat ini belum juga terlaksana,  hanya janji janji palsu"ujar guru yang enggan disebutkan namanya, kalau ingin memajukan dunia pendidikan kami harapkan kerja sama orang tua wali murid, kalau disekolah anak kami,  namun sampai dirumah itu hak orang tuanya.lanjut paparannya.

Kalau kekurangan air itu bukan unsur kesengajaan. memang air  Pam yang selalu macet, Sehingga banyak anak didik kami yang sudah terdesak untuk buang air kecil terpaksa buang air kecil di sembarangan tempat, bahkan tembok sekolah pun menjadi tempat kencing anak didik ujar seorang guru,

Aroma  sangat menyengat,alias [PESING]  tapi kami sangat  memaklumi dalam hal itu, karena sering kehabisan air jadi harapan kami supaya air Pam dapat cepat terlaksana  dan dapat mengatsi keluhan-keluhan kami.  Lanjut paparan nya guru yang enggan disebutkan namanya.

Masalah  uang les itu memang ada kami lakukan cuma antara orang tua wali murid  dan kami tanpa ada pesetujuan dari orang tua wali murid.

Semuanya lima puluh ribu tergantung pada gurunya dan kami tidak pernah memaksa siswa.

Tanpa ada  persetujuan dari orang tua wali murid sebelum kami melakukan dan menjalankan program  les, kami memanggil orang tua wali murid dan kami meminta persetujuan  mereka demi untuk memajukan dan  menaikkan kualitas yang  lebih mantap dan  transparan, ujar guru  yang enggan disebutkan namanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar