Kamis, 28 Agustus 2014

Tatacara Pengelolaan Sampah di TPA

SRR - KAMPAR
(*jr)
  • Bangkinang Lebih Baik Dari Thailand
Bangkinang - Tatacara pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) sampah milik Pemkab Kampar yang berlokasi Desa Air Jernih atau di KM 10 ruas jalan lintas Bangkinang-Petapahan ternyata lebih baik dari pengelolaan sampah di negara gajah putih Thailand.

Pengelolaan sampah dengan sistem renfil atau sampah ditimbun dengan tanah serta adanya sistem pemisahan sampah organik dan non-organik plus pengolahan sampah organik menjadi pupuk merupakan keunggulan pengelolaan sampah di TPA Bangkinang. 
 
Hal itu, diungkapkan salah satu pimpinan LSM peduli lingkungan dari Negara Belanda yang bernama Mr. Nico Eiler yang sekaligus di LSM tersebut ia menjabat sebagai senior expert pada program PUM Organization Netherlands, sebagaimana diungkapkan kembali oleh Kepala Dinas Kebersihan, pertamanan dan pemakaman Kabupaten Kampar, Ir. H. M. Yasir, MM ketika ditemui di Bangkinang kemaren Rabu (27/8).

Ditambahkan M.Yasir bahwa Mr. Nico Eilers yang baru-baru ini  datang langsung melihat tata cara pengeloaan sampah di TPA Bangkinang menyatakan sangat kagum dengan sistim dan tata cara pengeloaan sampah yang diterapkan sudah masuk pada TPA level 4 yang sudah memperhitungkan kelestarian lingkungan dan kenyamanan petugas pengelola sampah di TPA tersebut. 

Sampah yang masuk ke TPA Bangkinang tersebut setiap harinya rata-rata lebih kurang 56 ton yang berasal dari Kota Bangkinang atau wilayah Kecamatan Bangkinang Kota dan Kecamatan Bangkinang.

Sampah pasar dan sampah rumah tangga dan sampah lainnya sebanyak 56 ton tersebut setelah sampai di TPA, lantas oleh para petugas dilakukan pemisahan untuk dua kategori yakni sampah organik dan sampah non-organik. 

Sampah organik selanjutnya diolah menjadi pupuk kompos. Sedangkan sisanya berupa sampah organik yang belum bisa diolah secara cepat plus seluruh sampah non-organik ditumpuk jadi satu, kemudian diratakan dan dicampur tanah. Selanjutnya secara merata ditimbun dengan tanah sehingga berupa gundukan tanah yang disekelilingnya dibuatkan parit pembuangan air. Air dari parit tersebut ditampung, diproses dan diendapkan serta selanjutnya dialirkan ke bak penampungan berikutnya. 

Proses dari bak penampungan pertama hingga bak penampungan terakhir menghasilkan air yang bersih dan tidak berbau. Dan akhirnya air yang bersih tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia atau pun bila air tersebut dibuang ke alam bebas maka kondisinya dijamin tidak akan merusak lingkungan, papar M. Yasir.

Dan, alhamdulillah, ternyata tata cara pengelolaan sampah di TPA Bangkinang dengan sistem renfil ini dinilai pakar lingkungan dari Belanda telah masuk kategori terbaik dan berada pada level 4. 

Dan bila dibandingkan dengan tata cara pengelolaan sampah di negara Thailand ternyata pengelolaan sampah di TPA Bangkinang jauh lebih baik, ujar M. Yasir. (Humas Setda Kampar).

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar