Kamis, 27 Maret 2014

PEMBUKAAN RAPAT SE PROVINSI RIAU TAHUN 2014 DI HADIRI WAKIL MENTERI PERTANIAN DAN GUBERNUR RIAU

ROKAN HILIR - SRR

SRR - 061

Rapat koordinasi teknis pembangunan perkebunan antara dinas perkebunan provinsi dengan dinas yang membidangi perkebunan kabupaten/kota se provinsi Riau tahun 2014. Dibuka oleh Gubernur Riau Bapak H. Annas Maamun, Direktur Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian Bpak Ir. Gamal Nasir, MS dan Direktur Tanaman Tahunan Direktorat Jendral Perkebunan Bapak Ir. Herdrajat Natawidjaya, MSc berserta jajaranya. Rapat koordinasi ini di anggap penting karena usaha perkebunan saat ini maupun dimasa yang akan datang menghadapi tantangan yang cukup berat. Selain menghadapi perubahan iklim global dan tuntutan pembangunan perkebunan berkelanjutan, tantangan lain adalah bagaimana pembangunan perkebunan dapat mendukung pembangunan nasional guna mengatasi berbagai permasalahan bangsa antara lain pemecahan kemiskinan dan pengangguran. Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Pertanian, tidak dapat bekerja sendiri dalam menjalankan berbagai program dan kegiatan pembangunan perkebunan karena pada hakikatnya ujung tombak pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan adalah Pemerintah Daerah dan tentunya dengan tidak mengesampingkan peran dunia usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, kata kunci dari keberhasilan pembangunan perkebunan di era yang penuh persaingan ini adalah bagaimana dapat ”mensinergikan” seluruh potensi sumber daya yang ada sehingga perkebunan akan menjadi sumber pendapatan dan kesejahteraan bangsa. Melalui sinergi sumberdaya Pemerintah-Pengusaha-Masyarakat dapat menyatukan energi dan menyerasikan langkah strategis operasional guna menyelesaikan permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan perkebunan. Di perlukan juga mengevaluasi kinerja selama ini untuk mendapatkan umpan balik, dalam upaya menyelesaikan berbagai permasalahan dan tantangan yang ada secara profesional, guna memperkokoh landasan pembangunan perkebunan yang sudah ada. Usaha perkebunan di Indonesia telah mengalami perjalanan sejarah yang cukup panjang.  Dalam perjalanan tersebut saya yakin kita telah mengalami pasang surut dengan berbagai tantangan dan kendala yang kita hadapi. Untuk itu telah banyak pengalaman penting yang dapat kita jadikan pegangan dalam menyongsong masa depan yang penuh dengan perubahan dan persaingan. Capaian kinerja subsektor perkebunan pada tahun selama periode 2010-2013 yang lalu cukup mengesankan. Indikator makro pembangunan perkebunan seperti PDB, neraca perdagangan, investasi, pendapatan pekebun, penyerapan tenaga kerja dan NTP menunjukkan trend  yang positif. Begitu juga dengan indikator mikro pembangunan seperti produksi dan produktivitas komodtias perkebunan unggulan nasional secara umum tumbuh positif.  Indikator kinerja sub sektor perkebunan tahun periode 2010-2013 tersebut mengindikasikan bahwa kebijakan  yang kita laksanakan sudah berada pada jalur yang benar (on the right track).  Namun demikian  tidak bisa mengesampingkan masih adanya dinamika lapangan yang masih harus perbaiki ke depan, seperti: tingkat produktivitas tanaman yang belum optimal, infrastruktur yang belum memadai, SDM yang masih perlu ditingkatkan dan rendahnya nilai tambah komoditas perkebunan. Oleh karena itu, dalam melaksanakan pembangunan  perkebunan kita tidak boleh lagi melaksanakannya secara “business as usual”, tetapi harus diikuti dengan berbagai upaya terobosan dalam rangka percepatan pelaksanaan dan kualitas capaian kegiatan, serta mampu menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan masyarakat yang memerlukan penyelesaian segera. Terkait dengan apa yang Pak Wamen kemukakan sebelumnya dan isu-isu yang berkembang, saya sangat berkepentingan untuk menyampaikan beberapa harapan -harapan terhadap Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Provinsi Riau  untuk lebih berperan aktif dalam pembangunan perkebunan antara lain:
1.        Swasembada gula nasional. Dalam rangka mencapai swasembada gula nasional baik untuk konsumsi maupun industri pada akhir tahun 2014, akselerasi peningkatan produksi gula melalui bongkar ratoon, rehabilitasi PG serta upaya lain yang ada agar terus dilanjutkan dan disempurnakan.
2.        Peremajaan, rehabilitasi serta intensifikasi tanaman tua/tidak produktif/ rusak. Salah satu fokus kegiatan utama ke depan adalah peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi tanaman tua/tidak produktif/rusak, terutama untuk komoditi perkebunan yang banyak diusahakan oleh rakyat serta pengembangannya pada areal yang potensial.
3.      Pengembangan tanaman sumber bahan bakar nabati. Pengembangan tanaman sumber bahan bakar nabati  seperti minyak sawit, tebu, sagu, dan kemiri sunan sebagai alternatif sumber bahan baku energi terbarukan perlu didorong dan dipercepat pengembangannya. Untuk itu perlu kerjasama antara pemerintah, Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Perguruan Tinggi, Swasta dan pihak terkait lainnya terutama untuk analisis kelayakan teknis/agro-klimat, ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan serta dalam aplikasinya.
4.   Penyediaan benih unggul yang cukup. Untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas perkebunan salah satu faktor kunci adalah ketersediaan benih unggul yang memadai. Untuk itu diharapkan Pemerintah Daerah dapat lebih berperan ikut mendukung pembangunan kebun benih/kebun induk yang diperlukan.
5.     Peningkatan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan perkebunan. Upaya peningkatan nilai tambah secara bertahap dan berkesinambungan merupakan hal strategis yang harus kita dorong bersama. Untuk itu pengembangan produk turunan dan pengembangan pasar baru selain pasar tradisional perlu terus ditingkatkan agar ekspor produk primer kita di tahun-tahun mendatang semakin mengecil proporsinya dibanding produk olahannya.
6.   Pengendalian kebakaran kebun dan lahan. Setiap tahun kita melakukan Workshop Pengendalian Kebakaran Kebun dan Lahan yang menghasilkan kesepakatan kebersamaan dan sinergitas dalam upaya pencegahan kebakaran, dimana masing-masing pihak-pihak terkait berkewajiban melakukan kegiatan pengendalian kebakaran kebun dan lahan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Saya mengingatkan agar kesepakatan tersebut dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga di tahun mendatang kejadian kebakaran dapat dicegah dan dieliminir bahkan dihilangkan karena beberapa pihak diluar negeri menilai praktek-praktek ini sebagi sumber peningkatan emisi Gas Rumah Kaca
7.        Community development. Dibeberapa lokasi pengembangan perkebunan masih banyak konflik yang terjadi antara investor dan masyarakat sekitarnya yang mengakibatkan terganggunya aktivitas pembangunan kebun.  Oleh karena itu perlu adanya upaya peningkatan pemberdayaan masyarakat sekitar kebun.
8.        Tuntutan pembangunan berkelanjutan harus disikapi sesuai dengan peraturan perundangan yang ada seperti penerapan ISPO, pembukaan lahan tanpa bakar, mempertahankan enclave baik untuk habitat hewan yang dilindungi maupun mempertahankan keanekaragaman hayati, serta penerapan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) secara ketat.
9.        Peningkatan infrastruktur  terutama jalan dan pelabuhan merupakan komponen penting lainnya dalam mendukung sub sektor perkebunan.  Meskipun pemerintah telah memberikan prioritas pembangunan infrastruktur, baik melalui dana alokasi khusus (DAK) maupun APBN, sudah saatnya kita kembangkan infrastruktur yang disinergiskan dengan lokasi-lokasi pengembangan perkebunan.
10. Peningkatan Promosi  perlu dilakukan baik untuk mempertahankan pasar tradisional/konvensional maupun penetrasi pasar baru, seperti Timur Tengah, Afrika maupun negara-negara eks Uni Sovyet dan Eropa Timur lainnya.

Itulah beberapa hal yang disampaikan yang kiranya dapat menjadi masukan untuk diskusi. Pak Wamen berharap Rapat Koordinasi Teknis ini dapat menghasilkan langkah nyata yang bermanfaat bagi pembangunan perkebunan ke depan secara luas. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu membimbing dan meridhoi segala upaya mereka semua.            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar