Jumat, 14 Februari 2014

BANGUNAN SEKOLAH YANG TERBENGKALAI

KUANSING, CERINTI-SRR

(*049)



       Disa’at banyak daerah yang membutuhkan gedung sekolah yang layak untuk proses belajar mengajar, tapi lain halnya yang terjadi di Kecamatan Cerenti Kabupaten Kuansing ini. Ada sebuah bangunan sekolah yang sudah selesai dibangun dari 5 (lima) tahun yang lalu tepatnya di antara Desa Sikakak dan Desa Pulau Jambu yang bangunannya  cukup megah untuk ukuran sebuah sekolah ini tapi hingga sa’at ini tidak ditempati. Jika dilihat kondisinya sekarang bangunan itu sangat memprihatinkan. Hampir semua kaca jendelanya hancur akibat tangan – tangan usil, lantainya yang terbuat dari keramik sudah berubah warna menjadi coklat pekat karena kotoran kelelawar. Dan jika dilihat dari jauh seperti bangunan peninggalan belanda yang sudah usang karena mulai dipenuhi tumbuhan akar dan lumut.

        Yang lebih anehnya lagi, bangunan tersebut berada sangat jauh dari pemukiman warga. Karena berada dihutan dan perkebunan karet yang memisahkan Desa Sikakak dan Pulau Jambu. Sehingga kami kesulitan untuk mencari keterangan tentang bangunan ini. Akhirnya kami mendatangi tempat terdekat yaitu Dusun Candi yang berbatasan langsung dengan daerah dimana tempat sekolah itu dibangun. Kami mencoba mencari informasi dari Ketua RT setempat. Bapak Darwin (40th) sang ketua RT menjelaskan kalau bangunan tersebut dibuat bersamaan dengan pembangunan jembatan yang menghubungkan Sikakak dan Pulau jambu. Tapi setelah bangunan itu selesai pengerjaannya hingga sa’at ini tak kunjung ditempati. Karena tak satupun ada anak yang mau bersekolah disitu. Ketika kami menanyakan apa alasan anak – anak tidak mau bersekolah disana, Darwin menjelaskan kalau letak sekolah itu sangat jauh dari pemukiman dan melewati hutan.terang saja anak – anak tidak akan berani. Lebih jauh kami bertaya sebenarnya sekolah ini dibangun oleh siapa, oleh pemerintahan kuansing kah, pribadi atau dari mana, apakah ini  SD Negeri, Swasta, Sekolah jauh dan lain sebagainya, darwin menjelaskan tidak terlalu mengetahui hal itu, karena pembangunan sekolah ini tidak dimusyawarahkan dulu dengan masyarakat setempat.
      Memang setelah kami telusuri, sekolah ini berjarak sekitar 2 Km dari pemukiman warga baik kehulu maupun kehilir. Tidak puas dengan penjelasan Pak Darwin, kami mencari informasi kepada warga yang lain. Jawabannya tetap sama, mereka juga tidak tau banyak tentang bangunan sekolah ini. Tapi warga punya keyakinan banguan ini tidak dibangun pemerintahan Kuansing tapi inisiatif dari salah satu warga Cerenti yang pernah menjadi Anggota Dewan Prov. Riau yang mengurus pembangunannya. Dan jika Sekolah ini sepaket dengan bangunan jembatan artinya dananya dari tingkat I ( Provinsi )
      Entah mana yang benar, wallahu ‘alam. Kami pun tidak melanjutkan menggali informasi ini lebih jauh karena tidak tau mau kemana lagi bertanya dan rasanya tidak terlalu penting lagi. Toh bangunan ini pun sudah tidak layak huni lagi. Apakah ini salah satu bentuk pencucian uang, seperti pengalih perhatian untuk tindakan korupsi atau bangunan ini memang dibuat  untuk tujuan mulia memberikan sarana prasarana demi kemajuan dunia pendidikan. Semua kemungkinan itu bisa terjadi. Tapi yang pasti mari semua pihak mengambil hikmah dari hal ini. Jangan sampai terjadi lagi hal serupa. Rencanakan dulu dengan matang semua hal yang ingin dilakukan. Karena jika uang dari sekolah yang tidak ada gunanya ini bisa saja digunakan untuk merenovasi sekolah – sekolah yang membutuhkan perbaikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar