Rabu, 03 September 2014

Hasil Panen Meranti Belum Optimal

SRR - MERANTI

SELATPANJANG – Upaya Pemkab Kepulauan Meranti melalui Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan dalam meningkatkan hasil produksi beras, belum mencapai pada sasaran target. Program peningkatan hasil panen melalui program ekstensifikasi pertanian  dengan mencetak sawah baru, justru terkesan menambah luasnya lahan garapan yang tak digarap petani. Untuk itu, instansi terkait harus segera melakukan evaluasi terhadap kebijakan program peningkatan produksi beras yang telah di gulirkan agar benar-benar tetap pada sasaran.
Hal ini diungkapkan Ketua Himpunan Petani Terpadu Hendra, SP, di Selatpanjang terkait belum optimalnya hasil panen MT 2013/2014 dan banyaknya luas hamapran sawah yang tak digarap petani di berbagai kawasan Agropolitan Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir.

“Untuk apa cetak sawah luas-luas, toh kalah akhirnya tak digarap. Harusnya intansi terkait lebih intens meningkatkan kualitas petani melalui program pemberdayaan. Dari hasil evaluasi dilapangan, tidak banyak perubaahan kebijakan program pasca mekarnya Meranti dari zaman masih bergabung dengan Bengkalis. Meskipun petani dimanjakan dengan berbagai proyek yang masuk, realitasnya petani tetap hanya menjadik objek bukannya subjek yang diberdayakan. Ini yang menyebabkan kenapa hasil panen kita tidak optimal” ungkap Hendra.

Menurutnya, harus diakui upaya Pemkab Meranti dalam memaksimalkan program ketahanan pangan melalui peningkatan produksi panen memang positif. Namun, dari realitas program yang digulirkan, belum sepenuhnya menyentuh pada akar persoalan di tengah-tengah petani. Program yang digulirkan pemerintah sepertinya lebih cendrung bersifat life service, dengan berbagai proyek yang tidak tepat. Diantaranya proyek penyediaan hand traktor, penyediaan saluran irigasi maupun percetakan sawah baru. Akibatnya, masyarakat petani yang menjadi subjek kegiatan kebingungan. Keberadaan gapoktan yang semula diharapkan mampu  menjadi wadah kegiatan petan, juga jalan ditempat dan hanya menjadi formalitas. Dengan demikian, tidak ada bedanya program-program peningkatan produksi pangan pada zaman Bengkalis dengan Meranti sekarang. Petani hanya menjadi objek kegiatan, setelah proyek digulirkan kemudian ditinggalkan.

“Keberadaan PPL yang diharapkan mampu mendampingi petani, juga tidak bekerja efektif. Malah kesannya hanya menjadi beban APBD, untuk membayar honor. Sampai hari ini, kita belum menemukan adanya program yang benar-benar nyata dari instansi terkait dalam membangun kualitas SDM petani. Jadi, jangan salahkan petani bila hasil panen tak maksimal sesuai target. Harus ada program yang benar-benar intens, terhadap peningkatan kualitas SDM Petani” beber Alumi Fakultas Pertanian UIR ini.

Rutinitas Tahunan

M Nur (60) petani Rangsang Pesisir mengakui 90 persen aktivitas petani dalam menggarap hamparan sawahnya lebih cendrung sebagai warisan tradisi yang lakukan secara turun temurun. Soal bagaimana teknis menggarap hamparan sawah yang sudah tak produktif, cara menggunakan hand tracktor tekhnis penanggulangan hama sampai program pasca panen, para petani tak pernah mendapatkan program pelatihan dan pembinaan. Baik dari pihak Dinas terkait, PPL maupun Kelompok Tani. Apa yang dilakukan para petani merupakan bagian dari rutinitas tahunan yang dilakuan secara tradisional disetiap musim tanamnya. “Saat ini program yang digulirkan pemerintah daerah, tidak jauh berubah dari zaman Bengkalis. Ketika proyek telah digulirkan, apakah itu bantuan bibit, racun mapun kebutuhan saprodi lainnya, petani ditinggalkan. Jadi, jangan heran bila hasilnya tak maksimal. Kalaupun bantuan program ini dimanfaatkan petani, sebatas dapat bantuan ya diambil dari pada hilang lenyap tanpa ada kejelasan.Kita minta ada program pemberdayaan yang lebih jelas, terprogram, terukur dan melibatkan semua petani bukan lagi didasarkan pada kepentingan sepihak. Terus terang, apa kegiatan kelompok petani juga tidak tahu” tandas Bapak dengan empat orang cucu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar